Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Jefferson Isyaratkan Tidak Ada Penurunan Suku Bunga Januari, Proses Disinflasi Berlanjut Melambat
Wakil Ketua Federal Reserve Philip N. Jefferson pada 16 Januari 2026 menghadirkan perspektif yang hati-hati namun tetap optimis tentang kondisi ekonomi Amerika di awal tahun baru. Dalam pidatonya di Florida Atlantic University, Jefferson menegaskan bahwa Federal Reserve tidak terburu-buru menurunkan suku bunga di pertemuan akhir Januari, seiring proses disinflasi yang terus berlanjut namun menghadapi hambatan signifikan. Isyarat ini memberikan sinyal jelas kepada pasar bahwa jalur kebijakan moneter akan tetap stabil dalam jangka pendek.
Ekonomi Tumbuh Kokoh, Namun Disinflasi Kehilangan Momentum
Kinerja ekonomi Amerika pada 2025 menunjukkan pertumbuhan yang berlanjut, meski dengan beberapa gejala pelemahan yang mulai terlihat. Data PDB kuartal ketiga 2025 menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 4,3%, jauh melampaui laju yang dicapai di paruh pertama tahun lalu. Ekspansi ini dipicu oleh belanja konsumen yang kuat dan lonjakan ekspor bersih yang cenderung fluktuatif. Investasi bisnis tumbuh stabil, sementara sektor perumahan masih berjuang. Jefferson memproyeksikan bahwa, mengesampingkan dampak gangguan pemerintah pada kuartal keempat, ekonomi akan terus tumbuh dengan laju sekitar 2% dalam waktu dekat—tingkat yang moderat dan berkelanjutan.
Namun, capaian ini terusikuti oleh tantangan pada sisi inflasi. Proses disinflasi yang pernah berlangsung agresif pada 2023-2024 mulai menunjukkan tanda-tanda melambat. CPI pada Desember 2025 naik 2,7% secara tahunan, sementara Core CPI (yang mengecualikan harga makanan dan energi) juga meningkat 2,6%—keduanya masih di atas target 2% Federal Reserve. Grafik historis menunjukkan bahwa meski inflasi agregat dan core telah menurun tajam dari puncaknya di pertengahan 2022, momentum penurunan ini telah melambat signifikan dalam setahun terakhir, mengindikasikan bahwa pencapaian tahap akhir disinflasi akan memerlukan waktu lebih lama dari yang diharapkan.
Analisis detail menunjukkan dinamika yang kompleks di balik data agregat. Inflasi di sektor jasa perumahan terus menunjukkan tren menurun yang konsisten, dan begitu pula dengan inflasi jasa non-energi lainnya. Namun, pola ini diimbangi oleh kenaikan yang signifikan pada harga barang-barang inti (core goods). Setelah melonjak selama pandemi dan kemudian menurun kembali ke level pra-pandemi pada 2023, inflasi harga barang inti naik signifikan pada 2025, mencapai 1,4% pada Desember—sebuah level yang mengganggu proses disinflasi keseluruhan. Jefferson mengaitkan kenaikan ini setidaknya sebagian dengan dampak tarif impor yang lebih tinggi, yang diteruskan ke harga konsumen. Meskipun terdapat beberapa risiko kenaikan harga yang masih berlanjut, Jefferson mempertahankan skenario dasar bahwa dampak tarif akan bersifat satu kali dalam perjalanan perekonomian.
Pasar Tenaga Kerja Melemah, Risiko Peningkatan Pengangguran Semakin Nyata
Kondisi di pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan yang progresif sepanjang 2025. Pertumbuhan penciptaan lapangan kerja secara substansial melambat dibanding tahun sebelumnya, dengan pemberi kerja menambah sekitar 50 ribu pekerjaan non-pertanian per bulan pada November dan Desember 2025. Angka ini jauh lebih rendah dibanding periode sebelumnya dan mencerminkan perubahan yang mendasar dalam dinamika pasar kerja. Tingkat pengangguran terangkat dari 4,1% pada akhir 2024 menjadi 4,4% pada akhir 2025, meskipun peningkatan ini masih relatif sedang.
Mengkhawatirkan bagi para pembuat kebijakan adalah penyebab utama pelemahan ini tidak hanya terletak pada perlambatan pertumbuhan tenaga kerja akibat imigrasi dan penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja, melainkan juga pada melemahnya permintaan tenaga kerja itu sendiri. Rasio lowongan kerja terhadap pengangguran turun menjadi 0,9 pada November 2025—level yang meskipun masih dianggap sehat, namun jauh lebih rendah dibanding kondisi sangat ketat di periode pemulihan pasca-pandemi beberapa tahun sebelumnya. Meskipun jumlah PHK tetap rendah, mengindikasikan pasar belum mengalami kejatuhan yang drastis, aktivitas perekrutan juga tetap redup. Dalam konteks ini, risiko penurunan lapangan kerja yang lebih dalam tampak meningkat. Jefferson mengakui dinamika ini telah mengubah keseimbangan risiko kebijakan moneter, mendorong argumen untuk perlindungan yang lebih besar terhadap pasar kerja.
Keputusan Untuk Tidak Menurunkan Suku Bunga: Penghentian Sementara Dalam Penyesuaian
Merespons perubahan keseimbangan risiko ini, Federal Reserve telah melakukan penyesuaian kebijakan moneter yang signifikan. Sejak pertengahan 2024, FOMC telah menurunkan federal funds rate sebesar 1,75 poin persentase, sebuah langkah yang Jefferson nilai tepat untuk menyeimbangkan antara risiko inflasi tinggi dan risiko pelemahan pasar kerja. Penurunan ini telah menempatkan suku bunga kebijakan dalam rentang yang konsisten dengan tingkat netral—yakni level yang tidak merangsang maupun menahan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Meskipun tidak secara langsung menegaskan keputusan pertemuan yang akan datang pada akhir Januari 2026, Jefferson memberikan sinyal yang jelas bahwa posisi kebijakan saat ini memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk mengambil keputusan berdasarkan data dan prospek yang terus berkembang. Poin kuncinya adalah tidak ada urgensi untuk melakukan penyesuaian lebih lanjut pada tingkat suku bunga dalam pertemuan mendatang. Perspektif ini mencerminkan penilaian bahwa posisi kebijakan yang ada sudah memadai untuk menghadapi tantangan ekonomi yang ada, memberikan fleksibilitas untuk menunggu data inflasi yang lebih lengkap guna menentukan langkah selanjutnya.
Mekanisme Operasional Baru: Reserve Management Purchases Bukan Quantitative Easing
Melampaui diskusi tentang suku bunga kebijakan, Jefferson menekankan bahwa Federal Reserve telah mengambil langkah penting dalam manajemen neraca melalui inisiatif baru yang dimulai Desember 2025. Proses pengurangan aset (quantitative tightening) yang dimulai pertengahan 2022 telah berakhir, dengan total aset Federal Reserve berkurang sekitar 2,2 triliun dolar. Pengurangan ini berdampak pada kedua sisi neraca: tidak hanya pada kepemilikan sekuritas, tetapi juga pada kewajiban seperti cadangan perbankan dan saldo operasi reverse repo overnight.
Perkembangan terbaru yang sangat penting adalah inisiasi Reserve Management Purchases (RPM) pada Desember 2025. Jefferson dengan jelas membedakan RPM dari quantitative easing tradisional, sebuah perbedaan yang krusial untuk dipahami pasar. Quantitative easing adalah alat stimulus yang digunakan ketika suku bunga acuan mencapai batas bawah efektif, dengan tujuan menekan suku bunga jangka panjang dan merangsang ekonomi melalui pembelian besar-besaran Treasury dan sekuritas berbasis hipotek. Sebaliknya, RPM melibatkan pembelian Treasury dan surat utang jangka pendek lainnya dengan tujuan semata untuk mempertahankan level cadangan yang memadai (ample reserve level) di sistem perbankan, memastikan kontrol suku bunga jangka pendek yang efektif.
RPM bukanlah perubahan stance kebijakan moneter. Pembelian ini bersifat teknis dan operasional, dirancang untuk menormalkan durasi rata-rata kepemilikan aset Federal Reserve sambil menjaga kemampuan FOMC untuk mengontrol federal funds rate secara presisi. Laju dan skala pembelian disesuaikan dengan permintaan cadangan yang dinamis dan perubahan-perubahan pada item kewajiban neraca lainnya dari waktu ke waktu, mencerminkan fluktuasi musiman dan faktor-faktor struktural dalam sistem keuangan.
Stabilisasi Pasar Uang: Standing Repo Operations Menjadi Instrumen Kunci
Seiring level cadangan perbankan turun dari tingkat berlimpah menuju tingkat memadai, tekanan mulai terasa di pasar uang. Federal funds rate pada awalnya berada sekitar 7 basis poin di bawah interest on reserve balances (IORB) rate, tetapi seiring penyusutan cadangan, suku bunga repo mulai naik dan menunjukkan volatilitas yang meningkat. Tekanan khususnya terasa pada hari-hari pembayaran pajak dan penyelesaian obligasi pemerintah, ketika dana dalam jumlah besar mengalir ke Treasury General Account (TGA), mengurangi cadangan di sistem perbankan.
Untuk menangani dinamika ini, Federal Reserve menghapus batas total standing repo operations pada Desember 2025. Instrumen ini berfungsi sebagai penyangga untuk mencegah kenaikan suku bunga repo yang berlebihan. Pada akhir 2025, ketika tekanan pasar uang memang meningkat secara signifikan dalam konteks penyelesaian Treasury dalam skala besar, penggunaan standing repo operations meningkat sebagaimana yang diharapkan. Meskipun suku bunga repo mencapai level tinggi pada saat-saat tertentu, kondisi perdagangan pasar uang secara keseluruhan tetap teratur dan terkontrol. Jefferson mengekspresikan kepuasan bahwa instrumen ini dimanfaatkan lebih banyak ketika kondisi ekonomi benar-benar memerlukan dukungan tersebut.
Outlook dan Komitmen Terhadap Dual Mandate
Secara keseluruhan, Jefferson mempertahankan sikap optimis namun berhati-hati terhadap prospek ekonomi. Meskipun terdapat risiko pada kedua sisi dual mandate—risiko inflasi dan risiko terhadap pasar tenaga kerja—Federal Reserve tetap berkomitmen untuk memantau data yang akan datang dengan saksama. Proses disinflasi memang telah melambat, namun Jefferson mempertahankan kepercayaan bahwa inflasi akan kembali ke jalur target 2% sejalan dengan penurunan indikator ekspektasi inflasi jangka pendek, dan dengan asumsi bahwa dampak tarif bersifat satu kali dalam perjalanan perekonomian.
Dalam konteks ini, tidak adanya keputusan untuk menurunkan suku bunga pada Januari 2026 bukanlah sinyal kembali ke sikap hawkish, melainkan refleksi dari penilaian bahwa posisi kebijakan saat ini sudah tepat. Federal Reserve siap untuk melakukan penyesuaian jika data mengindikasikan kebutuhan untuk berbuat demikian, namun saat ini fokusnya adalah menjaga stabilitas sambil terus mengawasi evolusi inflasi dan kondisi pasar kerja. Komitmen ini, diterjemahkan melalui tindakan operasional seperti RPM dan perluasan standing repo operations, menunjukkan bahwa Federal Reserve siap untuk menjaga efektivitas transmisi kebijakan moneter ke seluruh ekonomi, terlepas dari tantangan teknis yang mungkin timbul di pasar keuangan.