Nilai tukar Pound Sterling terhadap Renminbi terus mengalami tekanan, lembaga berbeda pendapat tentang tren tahun 2026

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung

Poundsterling menyambut rebound di awal tahun baru, tetapi apakah pasar akan terus naik atau kembali koreksi turun, bank investasi Wall Street justru memberikan prediksi yang sangat berbeda.

Tiga faktor utama di balik rebound Poundsterling

Pada 6 Januari, GBP/USD menyentuh level 1.3562, tertinggi sejak September tahun lalu. Dalam dua bulan terakhir, kenaikan GBP terhadap USD mencapai 4,12%, secara jelas mengungguli kenaikan EUR/USD sebesar 2,22%. Rebound ini terutama didorong oleh tiga kekuatan yang bersinergi: pertama, kepercayaan pasar menguat setelah pengumuman anggaran baru Inggris; kedua, ekspektasi pelambatan pemangkasan suku bunga Bank Sentral membalik sentimen pesimis sebelumnya; ketiga, pelemahan dolar AS secara keseluruhan memberikan dukungan.

Otoritas keuangan Inggris merilis anggaran yang lebih baik dari perkiraan pada November, sehingga investor mengurangi posisi short GBP. Memasuki Desember, Bank of England mengambil sikap lebih hati-hati dalam pemangkasan suku bunga, keputusan “hawkish” ini semakin memperkuat fondasi kenaikan GBP. Dari sudut pandang spread suku bunga, pasar secara umum memperkirakan Federal Reserve akan memangkas suku bunga dua kali pada 2026, sementara Bank of England hanya sekali, sehingga perbedaan hasil ini memberikan dukungan bagi Pound.

Perbedaan pandangan makin tajam, muncul tiga pendapat

Menghadapi prospek pergerakan nilai tukar GBP terhadap RMB dan mata uang lain, bank-bank besar terjebak dalam benturan pandangan.

Posisi netral cenderung lemah dari JPMorgan: Bank ini berpendapat bahwa GBP didukung oleh ketahanan ekonomi dan daya tarik carry trade, tetapi juga tertekan oleh tekanan defisit ganda dan risiko politik. Prediksi mereka adalah tren awal menguat lalu melemah—GBP/USD mencapai 1.37 di Q1, melonjak ke puncak 1.41 di Q2, kemudian di Q3 dan Q4 kembali turun ke 1.40 dan 1.36.

Sikap optimis tegas dari Bank of America: Analis BAC berpendapat bahwa meredanya tekanan fiskal Inggris telah menghilangkan premi risiko pasar, dan setelah risiko politik serta ekonomi mereda, GBP berpotensi mengalami pemulihan. Menurut mereka, ekspektasi pemangkasan suku bunga sudah tercermin dalam harga saat ini, sehingga ruang kenaikan masih luas, dengan target akhir tahun di 1.45.

Peringatan pesimis dari Citibank: Bank ini justru berbalik. Citi menunjukkan bahwa pemilihan lokal Mei dapat memperburuk ketidakpastian politik Inggris, dan yang lebih penting, Bank of England akan mulai mempercepat pelonggaran kebijakan di paruh kedua 2026. Berdasarkan prediksi ini, Citi menetapkan target akhir tahun GBP/USD di 1.22, menandakan penurunan besar.

Arah GBP di 2026

Pergerakan nilai tukar GBP terhadap RMB dan pasar valuta asing global masih penuh ketidakpastian. Faktor pendukung GBP meliputi keunggulan spread suku bunga relatif dan ketahanan pertumbuhan ekonomi, tetapi risiko politik, defisit ganda fiskal, serta perubahan kebijakan Bank Sentral tetap berpotensi menekan. Dalam jangka pendek, fluktuasi di kisaran 1.35-1.41 kemungkinan akan berlanjut, tetapi apakah GBP mampu menembus resistance di atas atau kembali melemah ke bawah 1.30, tergantung pada data ekonomi Inggris, sinyal kebijakan Bank, dan risiko politik dari pemilihan lokal.

Investor sebaiknya mengikuti pandangan ketiga bank besar ini sekaligus memantau kondisi keuangan Inggris, data ketenagakerjaan, dan pernyataan pejabat Bank Sentral, karena faktor-faktor ini akan menjadi variabel kunci dalam menentukan pergerakan GBP terhadap RMB dan mata uang lainnya.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan