Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Futures Kickoff
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Mengapa harus marah agar anak mau mendengarkan? Karena kita dan anak melakukan permainan emosi, bukan pengelolaan aturan. Logika permainan emosi adalah: aku marah, jadi kamu patuh, pada dasarnya anak takut padamu; sedangkan logika pengelolaan aturan adalah: jika kamu tidak mematuhi aturan, kamu harus menanggung konsekuensinya, ini adalah dua sistem yang sama sekali berbeda. Jadi kamu akan menemukan, semakin besar marahnya, anak akan semakin patuh, sebenarnya dia sedang terus mencoba batasanmu. Sebenarnya, tidak marah pun bisa mengendalikan anak, asalkan memahami: ketat tidak sama dengan keras. Kita harus membedakan dua hal: emosi dan perilaku. Emosi tidak benar atau salah, harus dipahami; perilaku benar atau salah, harus memiliki prinsip.
Yang paling dilarang adalah: sudah marah, sudah memaki, lalu akhirnya kembali memberi aturan kepada anak. Ini hanya akan membuatnya belajar: selama kamu berbuat keributan cukup keras, kamu akan mendapatkan kelonggaran. Cara yang benar-benar efektif adalah: emosi stabil, perilaku tegas. Dengan begitu, tidak menyakiti hubungan orang tua dan anak, sekaligus dapat memperbaiki perilaku. Akhirnya, rasa aman anak benar-benar berasal dari batasan yang jelas, stabil, dan dapat diprediksi. Rasa aman bukan berasal dari kelonggaran, tetapi dari kestabilan. Hari ini membiarkan bermain banyak, besok sama sekali tidak membiarkan, anak tidak bisa memprediksi reaksimu, malah menjadi lebih tidak tenang. Yang benar-benar merusak rasa aman, bukanlah ketat orang tua, melainkan ketidakpastian emosi orang tua.