#GlobalOilPricesSurgePast$100
Harga minyak bensin telah melewati 100 dolar per barel.
Kekerasan yang meningkat di Timur Tengah dan gangguan dalam lalu lintas kapal di Selat Hormuz telah mendorong harga minyak dunia melewati angka 100 dolar per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.
Dengan meningkatnya konflik di Timur Tengah, harga minyak dunia melewati 100 dolar per barel untuk pertama kalinya sejak 2022 dan situasi ini menyebabkan gangguan signifikan dalam pasokan energi global.
Segera setelah pasar dibuka pada 9 Maret, harga minyak Brent naik 20% menjadi 111,04 dolar per barel, sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) (WTI) juga meningkat sekitar 22%. Pada pukul 06:45 waktu Singapura, minyak Brent dengan pengiriman Mei 2026 mencapai 108,17 dolar per barel, meningkat 17%, sementara WTI pengiriman April 2026 naik 19% menjadi 107,82 dolar per barel.
Perkembangan ini disebabkan oleh kemacetan di Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak yang sangat penting bagi dunia. Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait mengurangi produksi mereka karena kesulitan dalam melewati kapal tanker minyak, yang menyebabkan penyimpanan cepat penuh. Sebelumnya, Irak juga sempat menangguhkan beberapa kegiatan produksi minggu lalu.
Setelah operasi militer yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran minggu lalu, tidak ada tanda-tanda bahwa konflik di Timur Tengah akan mereda. Serangan terhadap infrastruktur energi dan gangguan dalam transportasi telah menyebabkan lonjakan harga minyak dan gas alam.
Menurut Andy Lipow, ketua Lipow Oil Associates, jika konflik berlanjut dan pasokan tetap terbatas, level 100 dolar per barel mungkin hanya menjadi batas psikologis jangka pendek.
Kenaikan harga energi ini juga menyebabkan fluktuasi di seluruh dunia. Harga bensin eceran di AS mencapai level tertinggi sejak Agustus 2024, menambah tekanan pada ekonomi.
Harga minyak bensin telah melewati 100 dolar per barel.
Kekerasan yang meningkat di Timur Tengah dan gangguan dalam lalu lintas kapal di Selat Hormuz telah mendorong harga minyak dunia melewati angka 100 dolar per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.
Dengan meningkatnya konflik di Timur Tengah, harga minyak dunia melewati 100 dolar per barel untuk pertama kalinya sejak 2022 dan situasi ini menyebabkan gangguan signifikan dalam pasokan energi global.
Segera setelah pasar dibuka pada 9 Maret, harga minyak Brent naik 20% menjadi 111,04 dolar per barel, sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) (WTI) juga meningkat sekitar 22%. Pada pukul 06:45 waktu Singapura, minyak Brent dengan pengiriman Mei 2026 mencapai 108,17 dolar per barel, meningkat 17%, sementara WTI pengiriman April 2026 naik 19% menjadi 107,82 dolar per barel.
Perkembangan ini disebabkan oleh kemacetan di Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak yang sangat penting bagi dunia. Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait mengurangi produksi mereka karena kesulitan dalam melewati kapal tanker minyak, yang menyebabkan penyimpanan cepat penuh. Sebelumnya, Irak juga sempat menangguhkan beberapa kegiatan produksi minggu lalu.
Setelah operasi militer yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran minggu lalu, tidak ada tanda-tanda bahwa konflik di Timur Tengah akan mereda. Serangan terhadap infrastruktur energi dan gangguan dalam transportasi telah menyebabkan lonjakan harga minyak dan gas alam.
Menurut Andy Lipow, ketua Lipow Oil Associates, jika konflik berlanjut dan pasokan tetap terbatas, level 100 dolar per barel mungkin hanya menjadi batas psikologis jangka pendek.
Kenaikan harga energi ini juga menyebabkan fluktuasi di seluruh dunia. Harga bensin eceran di AS mencapai level tertinggi sejak Agustus 2024, menambah tekanan pada ekonomi.































