
Istilah “shitcoin” digunakan untuk menyebut token berisiko tinggi yang hampir tidak memiliki nilai intrinsik maupun dukungan kredibel.
Shitcoin umumnya tidak memiliki roadmap produk yang jelas, tidak menghasilkan pendapatan nyata, dan tidak menawarkan kegunaan yang berarti. Pengungkapan informasi biasanya minim, kepemilikan token sangat terpusat di segelintir pihak, dan likuiditas sangat tipis—menyebabkan harga mudah dimanipulasi dan sangat fluktuatif dalam waktu singkat. Risiko yang lazim termasuk “rug pull” (di mana tim proyek atau pemegang besar tiba-tiba menarik likuiditas sehingga harga anjlok), pajak transaksi berlebihan, atau perubahan izin smart contract secara sepihak.
Dalam konteks trading, shitcoin paling banyak ditemukan di decentralized exchange (DEX). DEX merupakan “marketplace peer-to-peer on-chain” yang memungkinkan siapa saja mencantumkan token. Hambatan masuk yang rendah mendorong aktivitas pasar sekaligus meningkatkan risiko.
Shitcoin kerap menjadi topik trending dan mudah menarik investor baru.
Token baru yang viral, cerita “100x” di media sosial, atau obrolan grup yang dipicu FOMO tentang “putaran terakhir” biasanya melibatkan shitcoin. Tanpa pengetahuan cukup, pemula berisiko mengejar lonjakan harga hanya untuk akhirnya mengalami kerugian akibat aksi whale atau penarikan likuiditas proyek.
Bahkan di exchange bereputasi, token tahap awal bisa sangat volatil dengan likuiditas terbatas dan risiko delisting mendadak. Memahami shitcoin membantu Anda membedakan antara spekulasi jangka pendek dan investasi jangka panjang, serta mengatur ukuran posisi dan strategi keluar secara tepat.
Siklus umumnya: “mint token, pompa harga, lalu buang.”
Langkah pertama adalah penciptaan token dan penerapan smart contract, penetapan total pasokan, serta pengaturan izin. Beberapa kontrak memungkinkan perubahan tarif pajak, blacklist alamat, atau minting tambahan—semua merupakan risiko utama.
Langkah kedua, likuiditas minim dimasukkan dan perdagangan dibuka. Likuiditas menentukan seberapa mudah aset dibeli atau dijual; likuiditas tipis membuat harga mudah bergerak drastis oleh transaksi besar. Proyek lalu membangun hype lewat media sosial, influencer (KOL), dan grup diskusi untuk menarik pembeli.
Langkah ketiga adalah fase pump-and-dump. Beberapa token mengenakan “pajak transaksi” yang mengambil sebagian dari tiap perdagangan ke wallet tertentu. Token lain memompa harga secara agresif hingga trader ritel ikut masuk, lalu tim atau whale awal menjual secara massal. Dalam kasus ekstrem, tim proyek langsung menarik dana pool likuiditas melalui “rug pull.”
Terkadang, proyek mencoba listing di centralized exchange untuk menarik pengguna baru dan tekanan beli. Namun, jika fundamental tetap lemah, volatilitas tajam dan koreksi harga tetap sangat mungkin terjadi.
Shitcoin utamanya beredar di DEX, platform sosial, dan bagian “new listing.”
Di decentralized exchange seperti Uniswap atau Raydium, token baru sering mengalami lonjakan harga liar saat peluncuran. Buku order yang tipis menyebabkan slippage—perbedaan signifikan antara harga eksekusi dan harga yang dikutip—menjadi hal biasa (slippage).
Media sosial dan aplikasi pesan menjadi kanal utama pemasaran, dengan hype seputar “market cap rendah,” “putaran terakhir,” atau “listing segera di exchange besar” untuk memicu urgensi dan FOMO (Fear of Missing Out).
Di exchange seperti Gate, token panas tahap awal cenderung memiliki order book dangkal dan harga tidak stabil, sehingga rentan terhadap pump dan dump secara cepat. Penting menggunakan limit order, memantau kedalaman order book, dan mengecek pengumuman resmi agar terhindar dari perdagangan tidak disengaja di tengah volatilitas ekstrem.
Selain itu, beberapa platform launchpad menawarkan pembuatan token satu klik, pra-penjualan, atau airdrop—menurunkan hambatan token baru dan mempercepat proliferasi shitcoin.
Lakukan due diligence; uji dengan nominal kecil.
Langkah 1: Analisis distribusi token. Gunakan block explorer untuk mengecek kepemilikan wallet teratas. Jika alamat-alamat ini menguasai lebih dari 50% pasokan, risiko manipulasi sangat tinggi.
Langkah 2: Tinjau izin kontrak. Periksa apakah kontrak memungkinkan minting token tambahan, perubahan tarif pajak, pembekuan atau blacklist alamat. Privilege berlebihan tanpa audit kredibel menandakan red flag utama.
Langkah 3: Pastikan likuiditas terkunci. Jika likuiditas tidak dikunci atau periode kunci sangat singkat, tim proyek dapat menarik dana kapan saja. Pilih token dengan ketentuan lockup yang transparan dan wajar.
Langkah 4: Pantau kedalaman trading dan slippage. Tetapkan batas slippage konservatif di DEX dan uji trading dengan nominal kecil; di platform seperti Gate, gunakan limit order untuk menghindari market order di lingkungan perdagangan tipis.
Langkah 5: Kenali taktik pemasaran. Waspadai janji seperti “100x dijamin” atau “listing segera di exchange besar.” Cari bukti kemajuan produk nyata, transparansi developer, dan kode open-source.
Langkah 6: Kelola ukuran posisi dan aturan keluar. Diversifikasi dana; tetapkan batas maksimal kerugian dan titik ambil untung; hindari leverage atau pinjaman saat trading shitcoin.
Langkah 7: Pantau pengumuman dan sinyal risiko. Ikuti pengumuman exchange, perubahan kontrak, dan anomali on-chain—siap kurangi eksposur dengan cepat jika diperlukan.
Selama setahun terakhir, shitcoin tetap sangat aktif, khususnya di blockchain populer dan narasi trending.
Statistik publik menunjukkan bahwa sejak akhir 2024 hingga awal 2025, penciptaan token baru melonjak berkat alat peluncuran dan template populer—ribuan token dicetak setiap hari; pada akhir 2024, beberapa platform telah mencapai jutaan total token yang tercipta. Di 2025, tren berlanjut namun siklus hidup token semakin pendek—pump dan dump terjadi lebih cepat.
Dari sisi trading, token bertema meme menyumbang pangsa dua digit volume DEX di beberapa chain sepanjang 2025. Faktor pendorongnya adalah hambatan penerbitan rendah, viralitas media sosial, konsentrasi modal spekulatif, dan kemudahan pembelian lewat mobile.
Dari sisi regulasi dan strategi platform di 2025, centralized exchange semakin ketat dalam seleksi token baru dan kontrol risiko—listing lebih selektif dan delisting lebih cepat—sehingga aktivitas shitcoin berpindah ke DEX. Investor perlu memantau volume kontrak baru, konsentrasi pemegang utama, rasio lock likuiditas, dan kedalaman trading.
Tips data: Pantau dashboard Dune, block explorer, dan pengumuman resmi exchange; bandingkan data lintas periode “enam bulan terakhir” atau “tahun terakhir” daripada hanya fokus pada lonjakan satu hari.
Keduanya sangat spekulatif, namun memiliki dinamika berbeda.
Shitcoin adalah label negatif untuk token tanpa transparansi atau nilai fundamental; meme coin menonjolkan daya tarik budaya dan komunitas—sering dimulai sebagai proyek ringan bertema viral namun sebagian berkembang menuju utilitas dan ekosistem.
Dalam praktiknya, banyak meme coin awal memiliki fundamental lemah dan hype emosional tinggi. Seiring komunitas tumbuh, likuiditas membaik, tata kelola berkembang, dan produk maju—beberapa token bertransisi dari “tidak bernilai” menjadi “berisiko tinggi namun berbasis komunitas.” Faktor pembeda utama tetap transparansi, pola kepemilikan terdesentralisasi, izin kontrak, dan pencapaian pengembangan nyata.
Cari indikator utama: whitepaper detail; latar belakang tim yang dipublikasikan; diskusi komunitas yang rasional dan aktif. Nilai likuiditas token, volume perdagangan, dan distribusi wallet—jika sebagian besar pasokan dikuasai beberapa alamat, waspada. Jangan mudah tergiur janji imbal hasil besar atau endorse selebriti; proyek bernilai mengandalkan teknologi dan utilitas nyata.
Tetap rasional—jangan panik membeli lebih banyak saat harga turun atau menahan kerugian terlalu lama. Evaluasi fundamental proyek; jika tidak ada potensi pengembangan, segera potong kerugian untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Refleksikan alasan pembelian Anda (kurang informasi? serakah? impulsif?) dan jadikan pelajaran. Gunakan exchange teregulasi seperti Gate untuk transparansi proyek dan alat manajemen risiko yang lebih baik.
Pemegang shitcoin sering menghadapi kejatuhan harga mendadak, likuiditas menghilang, atau tim proyek meninggalkan proyek. Biasanya, peserta awal mendapat untung sebelum penjualan massal membuat pemegang akhir menanggung token tak bernilai. Banyak proyek akhirnya hilang akibat kurangnya kasus penggunaan nyata—menjadi “debu digital.” Riset menyeluruh dan kesadaran risiko sangat penting bagi setiap investor.
Ikuti prinsip: "Jangan investasi pada apa yang tidak Anda pahami." Pahami teknologi dan model bisnis proyek sebelum menempatkan dana. Bertransaksi hanya di platform teregulasi seperti Gate; hindari sumber tak dikenal atau kanal tidak resmi. Tetapkan batas ketat untuk jumlah investasi—jangan pernah investasi dengan dana pinjaman. Selalu update pengetahuan industri crypto; pelajari cara mengenali penipuan dan tanda peringatan pada proyek.
Hambatan rendah blockchain memungkinkan siapa saja menerbitkan token dengan cepat—menjadi lahan subur bagi pelaku nakal. Asimetri informasi sangat tinggi di pasar crypto; investor ritel kesulitan melakukan analisis proyek secara mendalam. Dikombinasikan dengan sifat serakah manusia dan FOMO (Fear of Missing Out), shitcoin mudah menarik hype spekulatif. Pengawasan pasar yang relatif longgar juga berperan—menjadikan perlindungan diri dan penilaian rasional semakin krusial.


