
Bitcoin depth chart adalah visualisasi dari order book yang menampilkan dua kurva—satu untuk order beli dan satu untuk order jual. Grafik ini memudahkan trader menilai konsentrasi order di berbagai level harga, sehingga lebih mudah mengevaluasi likuiditas serta zona support dan resistance potensial.
Order book merupakan antrean order beli dan jual yang menunggu dieksekusi pada berbagai titik harga. Bitcoin depth chart mengelompokkan antrean ini berdasarkan harga dan menampilkan jumlah kumulatif di setiap level. Sumbu horizontal menunjukkan harga, sedangkan sumbu vertikal menampilkan kuantitas atau jumlah kumulatif. Semakin tinggi kurva pada harga tertentu, semakin besar konsentrasi order—menandakan likuiditas pasar yang lebih dalam dan kecil kemungkinan harga bergerak cepat melewati level tersebut.
Kurva kiri biasanya menunjukkan order beli, sedangkan kurva kanan merepresentasikan order jual. Tinggi dan bentuk masing-masing kurva mencerminkan kepadatan dan volume kumulatif order di setiap harga, sehingga pengguna dapat menilai sisi mana yang lebih dominan.
Misalnya, pada pasangan BTC/USDT, “tonjolan” mencolok di sisi kiri depth chart pada harga tertentu menandakan klaster order beli. Ini mengindikasikan bahwa jika harga turun ke kisaran tersebut, terdapat minat beli kuat yang siap menyerap tekanan jual. Sebaliknya, tonjolan di sisi kanan menunjukkan kepadatan order jual, yang berfungsi sebagai resistance jika harga naik ke area itu. Dengan mengarahkan kursor ke titik pada kurva, Anda dapat melihat harga dan jumlah order kumulatif secara detail—membantu mengasah strategi trading.
Bitcoin depth chart menggabungkan limit order di setiap harga dan harga sekitarnya, lalu menampilkan jumlah kumulatifnya untuk membentuk kurva depth. Market order dieksekusi langsung pada harga terbaik yang tersedia, menyapu limit order lawan di order book.
Limit order ditempatkan pada harga tertentu dan menunggu eksekusi, sementara market order langsung dieksekusi pada harga terbaik yang ada. Jika market order beli dalam jumlah besar mendorong harga naik, order ini akan menghabiskan order jual di sisi kanan chart; jika sisi ini “tipis” pada level tertentu, harga akan lebih mudah menembusnya. Sebaliknya, lonjakan market order jual akan cepat menghabiskan order beli di sisi kiri; area tipis lebih rentan terhadap penurunan harga yang tajam. Depth chart memperlihatkan zona “tebal” dan “tipis”, memungkinkan trader mengantisipasi resistensi eksekusi dan potensi slippage.
Pada antarmuka trading spot Gate, Bitcoin depth chart tampil berdampingan dengan candlestick chart, sehingga Anda bisa beralih tampilan dengan mudah. Arahkan kursor ke titik pada grafik untuk melihat harga dan jumlah order secara detail demi analisis yang lebih akurat.
Bitcoin depth chart utamanya mencerminkan distribusi likuiditas jangka pendek, namun dapat memberikan petunjuk arah pasar—meski sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya indikator tren. Grafik ini lebih efektif jika dikombinasikan dengan pola candlestick, perubahan volume, dan analisis berita.
Contohnya, jika ada klaster order jual (“sell wall”) di sisi kanan dengan volume rendah, pergerakan naik akan lebih sulit. Namun, jika dinding ini cepat terserap dengan volume yang meningkat, kelanjutan tren menjadi lebih mungkin. Depth chart menyoroti area resistance dan support, namun analisis tren tetap membutuhkan konfirmasi dari aksi harga dan aliran modal.
Buy wall adalah area di mana order beli dalam jumlah besar terkumpul pada harga tertentu; sell wall adalah area di mana order jual menumpuk. Pada depth chart, keduanya tampak sebagai “tonjolan” lokal yang menonjol, yang dapat berfungsi sebagai support atau resistance.
Perhatikan tiga hal utama: Pertama, seberapa dekat dinding ini dengan harga terakhir? Semakin dekat, semakin besar dampaknya pada volatilitas jangka pendek. Kedua, apakah dinding ini bertahan lama? Jika order besar muncul dan hilang cepat, bisa jadi itu taktik jangka pendek. Ketiga, amati reaksi pasar setelah dinding “dimakan”—jika harga bergerak cepat ke arah tersebut setelah terserap, berarti terjadi eksekusi nyata, bukan sekadar perubahan visual pada grafik.
Waspadai “spoofing”, yaitu penempatan order besar sementara untuk memengaruhi persepsi sebelum dibatalkan. Selalu bandingkan dengan volume perdagangan aktual dan eksekusi terbaru untuk memastikan transaksi signifikan benar-benar terjadi, bukan sekadar perubahan visual di depth chart.
Bitcoin depth chart membantu Anda memperkirakan slippage dan biaya transaksi, sehingga Anda dapat mengoptimalkan ukuran order dan metode eksekusi untuk meminimalkan risiko.
Bitcoin depth chart hanyalah snapshot dari order terbuka—bukan cerminan penuh dari niat trading sebenarnya. Grafik ini bisa dipengaruhi strategi jangka pendek dan tidak mencakup transaksi di luar bursa atau likuiditas tersembunyi.
Kesalahan umum meliputi terlalu mengandalkan satu depth chart, mengabaikan volume perdagangan atau aksi harga, mengasumsikan order besar menentukan arah, atau mengabaikan perbedaan antar platform. Setiap bursa memiliki struktur order book sendiri; apa yang Anda lihat di Gate hanya mencerminkan data Gate. Perbedaan likuiditas antar platform juga memengaruhi harga. Kecepatan refresh dan metode agregasi bisa berbeda, yang memengaruhi bentuk grafik.
Mengikuti proses terstruktur membantu mengubah wawasan dari Bitcoin depth chart menjadi strategi yang dapat diimplementasikan.
Langkah 1: Tentukan harga entry/exit dan batas posisi Anda—catat entry, exit, dan level stop-loss Anda.
Langkah 2: Buka Bitcoin depth chart di Gate dan periksa ketebalan order book serta lokasi buy wall dan sell wall di kisaran target Anda.
Langkah 3: Kombinasikan dengan pola candlestick dan data volume untuk mengonfirmasi sinyal breakout atau pullback.
Langkah 4: Lakukan trading kecil sebagai uji coba untuk memeriksa likuiditas dan slippage aktual dibanding ekspektasi.
Langkah 5: Gunakan split execution dan limit order, sesuaikan ukuran batch sesuai likuiditas yang terpantau.
Langkah 6: Setelah eksekusi, tinjau perubahan order book wall terhadap pergerakan harga dan perbaiki strategi Anda ke depannya.
Bitcoin depth chart secara visual merepresentasikan order beli dan jual dari order book, membantu pengguna memahami likuiditas di berbagai harga serta area support dan resistance potensial. Grafik ini membantu memperkirakan slippage, mengidentifikasi buy/sell wall, dan menemukan titik breakout potensial. Untuk hasil optimal, gunakan depth chart bersama candlestick chart, data volume, dan berita—bukan sebagai satu-satunya alat pengambilan keputusan. Pada antarmuka pasar spot Gate, manfaatkan depth chart untuk menemukan level kunci, melakukan split trade dengan limit order untuk menekan biaya, tetapkan stop-loss dan batas posisi untuk kontrol risiko, serta waspada terhadap spoofing atau perbedaan antar bursa. Pendekatan ini mengubah data visual menjadi keputusan yang dapat diambil tindakan sambil menjaga efisiensi dan perlindungan modal.
Perbedaan mencolok antara order beli dan jual mencerminkan sentimen trader dan kekuatan relatif. Jika order beli jauh lebih banyak dari order jual, ini menandakan momentum bullish dengan potensi tekanan naik; jika order jual mendominasi, penjual memegang kendali. Namun, waspadalah—order besar dapat menjadi sinyal menyesatkan (“spoofing”) dan tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar keputusan trading.
Order bisa hilang dari depth chart karena beberapa alasan: trader membatalkan order yang menunggu, order tersebut tereksekusi, atau pergerakan pasar cepat menyebabkan limit order terisi atau dihapus. Perubahan cepat biasanya menandakan partisipasi tinggi—dan risiko volatilitas meningkat.
Kesalahan paling umum adalah terlalu mengandalkan depth chart untuk memprediksi tren. Depth chart hanya menampilkan distribusi likuiditas secara real-time—tidak dapat meramalkan pergerakan di masa depan. Waspadai juga order besar yang mengintimidasi—aktivitas “whale” bisa menyesatkan. Jangan abaikan indikator teknikal lain; selalu analisis candlestick, volume, dan data tambahan secara bersamaan.
Perbedaan terjadi karena setiap platform memiliki basis pengguna, aktivitas trading, dan kebiasaan penempatan order yang berbeda. Sebagai bursa global, profil likuiditas Gate bisa berbeda dari yang lain—depth chart mencerminkan variasi ini. Untuk akurasi dan konsistensi keputusan, gunakan data depth Gate saat trading di platform ini.
Bar hijau menunjukkan order beli (niat membeli), sedangkan bar merah merepresentasikan order jual (niat menjual). Bar hijau yang lebih tinggi menandakan dukungan beli yang lebih kuat; bar merah yang lebih tinggi menunjukkan tekanan jual yang lebih besar. Membandingkan kedua sisi memberikan gambaran langsung tentang dinamika penawaran dan permintaan pasar saat ini.


